Program bongkar ratoon yang bertujuan meningkatkan produktivitas tanaman kembali mendapat perhatian dari sejumlah petani penerima bantuan. Mereka menyampaikan keluhan terkait waktu penyaluran bibit serta kondisi tanaman yang diterima yang dinilai belum sepenuhnya memenuhi harapan.
Petani mengungkapkan, bibit bantuan yang seharusnya sudah berada di lokasi sebelum jadwal tanam dimulai, justru datang saat sebagian kegiatan penanaman telah berjalan. Situasi tersebut membuat beberapa kelompok tani harus menyesuaikan kembali rencana kerja dan pola tanam yang telah disusun sebelumnya.
Keterlambatan distribusi dinilai dapat berdampak terhadap proses budidaya, baik dari sisi teknis maupun biaya operasional. Petani khawatir kondisi tersebut dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan berpengaruh terhadap pencapaian hasil produksi yang menjadi tujuan dari program tersebut.
Selain masalah ketepatan waktu, kualitas bibit yang diterima juga menjadi perhatian. Sejumlah penerima bantuan menyebut terdapat bibit yang kondisinya tidak seragam, bahkan ditemukan tanaman yang tampak kurang baik saat diterima. Menurut mereka, kualitas bibit awal menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan pertumbuhan tanaman ke depan.
Bibit yang diberikan harus benar-benar sesuai standar, karena tahap awal penanaman sangat menentukan hasil akhirnya,” ujar salah seorang petani penerima bantuan.
Keluhan tersebut turut menimbulkan pertanyaan mengenai proses pelaksanaan pengadaan bibit yang melibatkan CV Jaya Rosan dan CV Sungguh Menawan sebagai penyedia. Namun, sejumlah pihak menilai persoalan ini perlu dikaji secara menyeluruh, termasuk bagaimana mekanisme pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Pertanian sebagai instansi pelaksana program.
Pengawasan program tidak hanya berkaitan dengan proses penyaluran bantuan, tetapi juga mencakup pemeriksaan mutu bibit, kesesuaian spesifikasi dengan dokumen pengadaan, proses penerimaan barang, hingga memastikan bantuan benar-benar diterima oleh kelompok tani sesuai ketentuan.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dapat melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program tersebut agar bantuan yang bersumber dari anggaran negara memberikan manfaat maksimal bagi petani.
Jika persoalan keterlambatan dan kualitas bibit tidak segera ditangani, program bongkar ratoon berisiko tidak mencapai target yang telah ditetapkan. Petani juga dapat mengalami tambahan biaya apabila harus melakukan penyulaman maupun mengganti tanaman yang tidak tumbuh secara optimal.
Sejumlah pihak meminta adanya keterbukaan informasi dari Dinas Pertanian mengenai pelaksanaan kegiatan, termasuk jadwal distribusi bibit, hasil pemeriksaan kualitas tanaman, serta langkah tindak lanjut apabila ditemukan ketidaksesuaian di lapangan.
Dokumen pendukung seperti spesifikasi teknis bibit, daftar penerima bantuan, berita acara pemeriksaan, serta informasi terkait kerja sama dengan penyedia juga dinilai penting untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas program.
Evaluasi terhadap pelaksanaan bongkar ratoon diharapkan dapat menjadi dasar perbaikan agar kegiatan serupa pada masa mendatang berjalan lebih efektif. Dengan perencanaan yang matang, pengawasan yang optimal, serta penyediaan bibit berkualitas, program ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian dan mendukung kesejahteraan petani.
Sampai berita ini diterbitkan, Dinas Pertanian, CV Jaya Rosan, maupun CV Sungguh Menawan belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan petani tersebut. Redaksi tetap membuka ruang hak jawab bagi seluruh pihak sesuai prinsip pemberitaan yang berimbang.






